Showing posts with label hikmah. Show all posts
Showing posts with label hikmah. Show all posts

18 April 2011

Pentingnya Menjaga Amanah

Secara etimologis kata-kata amanah, iman, aman, dan amn(=ketenangan) berasal dari akar kata yang sama yaitu ‘ham zah, mim’, dan ‘nun’ yang memiliki pangkal makna ‘aman’, ‘tenteram’, ‘tidak merasa takut’. (lih al-Mu’jam al-Araby al-Asasy, hlm 109.) Hakikat maknanya pun saling berkaitan erat. Iman tidak terwujud sempurna kalau tidak ada amanah, begitu juga sebaliknya.



Rasa aman dan ketenangan pun tidak akan terealisir kalau tidak ada iman dan amanah. Konsekuensi logisnya, seorang mukmin yang tidak amanah perlu dicurigai kesahihan imannya, demikian juga se orang yang amanah tapi tidak beriman, amanahnya adalah palsu yang didasari atas kepentingan pribadi, politik, atau kelompoknya.



Hal ini diungkapkan oleh satu hadis yang acap kali disampaikan Rasulullah dalam khutbahnya: Tidak ada keimanan bagi seorang yang tidak amanah dan tidaklah ada manfaat beragama bagi orang yang tidak memegang janji. (HR Ahmad).

24 March 2011

Hikmah Dari Kesabaran

Pepatah populer mengatakan, man shabara zhafira, "Siapa yang bersabar akan beruntung." Mengapa beruntung? Sebab, innaallâha ma'a al-shâbirîn, "… Sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar." (QS al-Baqarah [2]: 153). Jika Allah sudah menyertai seseorang, tak ada siapa pun akan mampu mencelakakan dia, biarpun seluruh dunia bersatu padu menentangnya. Oleh karena itu, kebesertaan Allah dengan kita, itulah yang harus kita usahakan dalam kehidupan ini. Caranya ialah dengan bersabar. Sabar merupakan cara untuk meminta pertolongan Allah sebagaimana dalam Alquran dinyatakan: "Mintalah pertolongan dengan sabar dan shalat …." (QS al-Baqarah [2]: 45).


Bagaimana implementasi sabar? Berdasarkan sabda Rasulullah, para ulama membagi sabar ke dalam tiga situasi. Pertama, sabar dalam menjalankan ibadah (al-shabru fî al-'ibâdah). Kedua, sabar dalam menghindari maksiat (al-shabru 'alâ al-ma'shiyah). Ketiga, sabar dalam menghadapi musibah (al-shabru 'inda al-mushîbah).

16 March 2011

Bercermin Dari Tsunami Jepang

Mata hati Indonesia pernah terhenyak. Manakala, ratusan ribu manusia tergulung tsunami ganas di Aceh pada 2004 lalu. Lalu, rangkaian kisah-kisah tragis bermunculan. Di saat yang tak terlalu lama, juga hadir kisah-kisah menggetarkan kalbu.

Per individu, bukan satu dua manusia yang bisa selamat, dengan cara yang bisa disebut sebagai mukzijat. Mereka adalah orang-orang yang selamat meski gulungan ombak besar (atau tsunami) menghembalang ke seluruh garis pantai. Ada yang selamat karena naik pohon kelapa. Terapung (tetapi tetap hidup) berhari-hari di tengah lautan. Atau juga bayi yang tetap hidup meski sempat terseret arus.

Lain perkara, bila aksi-aksi "menyelamatkan diri" dari bencana itu hadir karena upaya bersama. Atau, paling tidak, ikhtiar penyelamatan yang dilakukan karena gerak kesadaran yang sungguh-sungguh. Inilah sebenarnya yang jauh lebih menggetarkan. Publik Indonesia pun, sejatinya, mampu melakukan itu. Manakala ribuan atau jutaan orang ikut membantu para korban Tsunami Aceh. Mulai dari menjadi relawan, pendonor, hingga sekadar member dana (di jalanan, atau transfer ke Bank).